Jambret Dan Copet Beraksi di Tempat Umum
A YANI-Aksi kejahatan di wilayah Martapura kian tidak terkendali. Pelaku kejahatan sekarang tidak saja menyasar di tempat-tempat sepi namun sudah nekad beraksi di tempat-tempat umum yang banyak dilalui orang.
Seperti yang dialami Abdul Hamid (27). Sepulang dari sholat Jumat di Masjid Al Karomah, Jumat (27/7) sekitar pukul 13.00 Wita Handphone Nokia seharga Rp 500 ribu yang dibawanya digasak penjambret.
Beruntung korban merasa handphonenya telah berpindah tangan langsung mengejar pria yang membawa handphonenya. Dibantu warga yang berada di sekitar lokasi kejadian, Dodi Hermawan (27), pelaku penjambretan dibekuk dan dihujani bogem mentah.
Sebelum aksi berlanjut ke tindakan anarki sejumlah anggota polisi berdatangan dan mengamankan tersangka ke Pospol Pasar Martapura. Selanjutnya tersangka dibawa ke Mapolres Banjar untuk proses hukum lebih lanjut.
Nasib yang kurang beruntung justru dialami Abdul Rahman (45). Warga Jl Veteran Kompleks Surya Sejahtra Langgeng I Martapura ini melapor ke Mapolres Banjar setelah tasnya dijambret dua orang bersepeda motor.
Abdul seorang pegawai negeri sipil ini menuturkan dirinya hendak menyeberang jalan di Jl A Yani Km 39 Martapura, Jumat sore. Saat menyeberang jalan, tiba-tiba didekati seseorang yang merampas tas berisi uang tunai Rp 400 ribu dan kabur.
Pada Jumat (27/7) sekitar pukul 21.00 Wita, Zadwa Amalia (11), ABG warga Jl Cempaka Gang Inpres RT 2 RW 1 melapor ke Mapolres Banjar setelah dirinya menjadi korban pencopetan saat menonton arena pasar malam di PPS Martapura. Akibatnya ia kehilangan handphone Nokia 2112. Kasus ini dalam penanganan polisi. esy
Minggu, 29 Juli 2007
Judi Tombak Bulu Digerebek
A YANI- Jefri Supriadi (27) tidak bisa berkutik saat anggota Polres Banjar dan Polsek Martapura menggerebek arena judi tombak bulu yang digelarnya di Pusat Pasar Sekumpul Martapura geger, Sabtu (28/7) sekitar pukul 19.30 Wita.
Dengan penuh kepasrahan, pria berrambut keriting yang mengaku warga Jl KS Tubun Gang Keluarga RT 2 RW 24 Pekauman Banjar Selatan yang baru tiga hari menggelar judi tombak bulu bangkit dari duduknya dan digelandang ke Mapolsek Martapura.
tidak sendiri, melalui kejar-kejaran, polisi mengamankan 11 orang lainnya. Namun setelah diperiksa satu per satu, polisi menetapkan lima orang sebagai tersangka kasus judi. Yang dilepaskan hanya menonton.
Mereka yang ditetapkan jadi tersangka adalah Amad Yani (27), warga Gang Kasturi RT 34 RW03 Sei Besar Banjarbaru, Noorinfansyah (23) warga Jl Teluk Tiram Darat Gang Bhakti RT 16 No 9 Banjarmasin, Sastro Wardoyo (20) warga Kompleks PPS Martapura. Kemudian, Suriani (43) warga Jl Mufakat RT 40 RW 3 Keraton Martapura dan Baihaki (25), yang mengaku tinggal di Jl Datu Gumbil Desa Jingah Habang Karang Intan.
Penggerebekan arena judi itu berawal adanya informasi diadakannya judi tombak bulu di arena pasar malam. sejumlah anggota berkoordinasi melakukan penggerebekan. Sebagaian disiapkan mengejar, sebagian lagi menangkap pemain yang menyerahkan diri.
Sesuai dengan waktu yang direncanakan, anggota bergerak.
Namun sekitar lima meter dari lokasi arena, pemain, penonton, yang mengetahui kehadiran polisi langsung lari tunggang langgang. Polisi mengejar. Usaha yang dilakukan tidak sia-sia. Sebanyak 12 orang berhasil diamankan dan digelandang ke Mapolsek Martapura. Setelah dilakukan pemeriksaan satu per satu, polisi akhirnya menetapkan enam orang tersangka pemain dan bandar judi.
Jefri mengaku dirinya sudah tiga hari ini menjadi bandar judi di PPS. Sebelumnya ia menjadi bandar judi di Pelaihari Tala. Cara mainnya, orang yang hendak main memasang kupon taruhan yang bisa diperoleh dengan harga Rp 1000.
Kupon itu diletakkan ke lapak yang bertuliskan angka satu sampai enam sesuai keinginan pemain. Salah seorang peserta diminta melemparkan tombak bulu ke arah piringan yang berisi pula angka satu sampai enam yang sebelumnya diputar bandar.
Nantinya lemparan tombak bulu mengenai salah satu nomer tertentu misalnya nomer satu maka pemasang kupon lapak di nomer satu berhak mendapatkan satu bungkus rokok LA warna merah seharga Rp 5000.
Kapolres Banjar AKBP Drs Sudrajat didampingi Kapolsek Martapura AKP Yudi Yuliandin tidak membantah diamankannya tersangka penjudi. Polisi mengamankan pula peralatan judi, beberapa slop rokok, kupon dan uang tunai Rp 867 ribu.
Dikatakan Yudi, penggerebekan ini dilakukan bersama dengan anggota Polres Banjar yang dipimpin Kabagops dan Kasat Intel Polres Banjar. esy
A YANI- Jefri Supriadi (27) tidak bisa berkutik saat anggota Polres Banjar dan Polsek Martapura menggerebek arena judi tombak bulu yang digelarnya di Pusat Pasar Sekumpul Martapura geger, Sabtu (28/7) sekitar pukul 19.30 Wita.
Dengan penuh kepasrahan, pria berrambut keriting yang mengaku warga Jl KS Tubun Gang Keluarga RT 2 RW 24 Pekauman Banjar Selatan yang baru tiga hari menggelar judi tombak bulu bangkit dari duduknya dan digelandang ke Mapolsek Martapura.
tidak sendiri, melalui kejar-kejaran, polisi mengamankan 11 orang lainnya. Namun setelah diperiksa satu per satu, polisi menetapkan lima orang sebagai tersangka kasus judi. Yang dilepaskan hanya menonton.
Mereka yang ditetapkan jadi tersangka adalah Amad Yani (27), warga Gang Kasturi RT 34 RW03 Sei Besar Banjarbaru, Noorinfansyah (23) warga Jl Teluk Tiram Darat Gang Bhakti RT 16 No 9 Banjarmasin, Sastro Wardoyo (20) warga Kompleks PPS Martapura. Kemudian, Suriani (43) warga Jl Mufakat RT 40 RW 3 Keraton Martapura dan Baihaki (25), yang mengaku tinggal di Jl Datu Gumbil Desa Jingah Habang Karang Intan.
Penggerebekan arena judi itu berawal adanya informasi diadakannya judi tombak bulu di arena pasar malam. sejumlah anggota berkoordinasi melakukan penggerebekan. Sebagaian disiapkan mengejar, sebagian lagi menangkap pemain yang menyerahkan diri.
Sesuai dengan waktu yang direncanakan, anggota bergerak.
Namun sekitar lima meter dari lokasi arena, pemain, penonton, yang mengetahui kehadiran polisi langsung lari tunggang langgang. Polisi mengejar. Usaha yang dilakukan tidak sia-sia. Sebanyak 12 orang berhasil diamankan dan digelandang ke Mapolsek Martapura. Setelah dilakukan pemeriksaan satu per satu, polisi akhirnya menetapkan enam orang tersangka pemain dan bandar judi.
Jefri mengaku dirinya sudah tiga hari ini menjadi bandar judi di PPS. Sebelumnya ia menjadi bandar judi di Pelaihari Tala. Cara mainnya, orang yang hendak main memasang kupon taruhan yang bisa diperoleh dengan harga Rp 1000.
Kupon itu diletakkan ke lapak yang bertuliskan angka satu sampai enam sesuai keinginan pemain. Salah seorang peserta diminta melemparkan tombak bulu ke arah piringan yang berisi pula angka satu sampai enam yang sebelumnya diputar bandar.
Nantinya lemparan tombak bulu mengenai salah satu nomer tertentu misalnya nomer satu maka pemasang kupon lapak di nomer satu berhak mendapatkan satu bungkus rokok LA warna merah seharga Rp 5000.
Kapolres Banjar AKBP Drs Sudrajat didampingi Kapolsek Martapura AKP Yudi Yuliandin tidak membantah diamankannya tersangka penjudi. Polisi mengamankan pula peralatan judi, beberapa slop rokok, kupon dan uang tunai Rp 867 ribu.
Dikatakan Yudi, penggerebekan ini dilakukan bersama dengan anggota Polres Banjar yang dipimpin Kabagops dan Kasat Intel Polres Banjar. esy
Wakar Kesandung Sajam
A YANI - Tugas sebagai wakar atau penjaga malam belum tentu bisa lepas dari jeratan hukum kasus kepemilikan senjata tajam (sajam). Seperti yang dialami Ahmad Saidi (35) warga Jl Menteri Empat Gang Anda Kelurahan Keraton Martapura Banjar.
Ia harus berurusan dengan pihak aparat Polsek Martapura setelah kedapatan membawa senjata tajam jenis pisau saat menonton komedi putar di Pusat Perbelanjaan Sekumpul, Sabtu (28/7) sekitar pukul 22.30 Wita.
Celakanya, wakar pasar Sekumpul ini tidak mempunyai surat izin kepemilikan senjata tajam (sajam) walaupun tugasnya sebagai penjaga malam yang harus melengkapi dirinya dengan senjata tajam. Ia digelandang ke Mapolsek Martapura.
Informasi yang dihimpun Metro, penangkapan terhadap tersangka berawal kecurigaan aparat Polsek Martapura yang saat itu berpakaian preman terhadap tersangka. Anggota itu lalu mendekati tersangka dan menggeledahnya.
Setelah digeledah, ternyata di pinggang kirinya tersangka, ditemukan sebilah pisau tanpa kumpang dengan gagang terbuat dari kayu coklat sepanjang 20 cm. Saat diminta menunjukkan surat izin membawa sajam, tersangka tidak mengakuinya.
Berdasarkan pengakuan tersangka, senjata tajam itu diperoleh dari pimpinan jaga malam, Ijai. Dirinya baru mendapatkan pisau itu sekitar 3 bulan yang lalu dan memang dirinya tidak mempunyai surat izin membawa senjata tajam.
Kapolres Banjar AKBP Drs Sudrajat didampingi Kapolsek Martapura AKP Yudi Yuliadin yang dikonfirmasi Metro tidak membantah diamankannya tersangka pembawa sajam ini. "Kasusnya dalam penanganan anggota kami," ujarnya. esy
A YANI - Tugas sebagai wakar atau penjaga malam belum tentu bisa lepas dari jeratan hukum kasus kepemilikan senjata tajam (sajam). Seperti yang dialami Ahmad Saidi (35) warga Jl Menteri Empat Gang Anda Kelurahan Keraton Martapura Banjar.
Ia harus berurusan dengan pihak aparat Polsek Martapura setelah kedapatan membawa senjata tajam jenis pisau saat menonton komedi putar di Pusat Perbelanjaan Sekumpul, Sabtu (28/7) sekitar pukul 22.30 Wita.
Celakanya, wakar pasar Sekumpul ini tidak mempunyai surat izin kepemilikan senjata tajam (sajam) walaupun tugasnya sebagai penjaga malam yang harus melengkapi dirinya dengan senjata tajam. Ia digelandang ke Mapolsek Martapura.
Informasi yang dihimpun Metro, penangkapan terhadap tersangka berawal kecurigaan aparat Polsek Martapura yang saat itu berpakaian preman terhadap tersangka. Anggota itu lalu mendekati tersangka dan menggeledahnya.
Setelah digeledah, ternyata di pinggang kirinya tersangka, ditemukan sebilah pisau tanpa kumpang dengan gagang terbuat dari kayu coklat sepanjang 20 cm. Saat diminta menunjukkan surat izin membawa sajam, tersangka tidak mengakuinya.
Berdasarkan pengakuan tersangka, senjata tajam itu diperoleh dari pimpinan jaga malam, Ijai. Dirinya baru mendapatkan pisau itu sekitar 3 bulan yang lalu dan memang dirinya tidak mempunyai surat izin membawa senjata tajam.
Kapolres Banjar AKBP Drs Sudrajat didampingi Kapolsek Martapura AKP Yudi Yuliadin yang dikonfirmasi Metro tidak membantah diamankannya tersangka pembawa sajam ini. "Kasusnya dalam penanganan anggota kami," ujarnya. esy
Sabtu, 28 Juli 2007
Waspadai Nyawa Melayang Di Jalan
KASUS kecelakaan lalu lintas (lalin) yang mengakibatkan meninggal terjadi di wilayah Kabupaten Banjar semakin tidak terkendali. Tidak sampai tiga minggu bulan Juli 2007 ini, tercatat 12 orang tewas sia-sia.
Tercatat, tujuh nyawa melayang di Jalan A Yani, dua nyawa menghilang di Jalan Lingkar Gubernur Subarjo, dua orang tewas di jalan Desa Banua Anyar-Takuti Astambul dan satu nyawa melayang di Jalan Martapura Lama.
Dari data itu, dua kasus laka tunggal megakibatkan tiga orang meninggal dunia yakni Minggu (22/7) dan Senin (23/7), tabrak lari ada dua kasus dengan dua korban nyawa melayang di Jalan A Yani Sabtu (7/7) dan Sabtu (14/7). Tabrakan antara truk dan bus yang menyebabkan satu orang tewas terjadi Minggu (8/7). Sisanya adalah tabrakan antara sepeda motor dengan truk maupun mobil pribadi yang lainnya.
Kasat Lantas Polres Banjar, AKP I Kade Utama mengatakan, sebagian besar kecelakaan karena kecerobohan pengemudi maupun pengendara saat menjalankan kendaraannya. "Umumnya, para korban tidak konsentrasi saat mengendarai sepeda motor atau mobilnya di jalan, yang disebabkan karena kecapekan atau mengantuk datang," ujarnya.
Pernyataan ini tidaklah berlebihan. Kasus kecelakaan yang mengakibatkan Syarkawi meninggal dunia disebabkan ngantuknya korban. Pasalnya, korban sebelumnya telah menempuh perjalanan dari Tala menuju Banjarmasin dengan sebelumnya singgah di Cempaka.Juga kecelakaan lalu lintas yang menimpa pasangan suami istri, Muhammadiah (40) dan Rusmidah (35) meninggal dunia di tempat kejadian di Jl G Subardjo Km 19,9 Gambut, Senin (16/7) juga karena korban mengantuk setelah menempuh perjalanan dari HSS.
Juga kecelakaan maut antara bus Arfat DA 2779 AA jurusan Banjarmasin -Buntok dengan sebuah truk DA 9445 AJ, Minggu (8/7) sekitar pukul 15.00 Wita di Jl A Yani Km63, Desa Cabi, Mataraman, Banjar.Kelalaian pengemudi bus, Mahdiani (30) warga Jl A Yani Km3,5 RT4 RW6, Banjarmasin karena mengemudi dalam keadaan mengantuk karena setelah semalaman mengemudikan bus sebagai biangnya. Pengemudi truk, Sudarto (27) akhirnya meninggal dunia.
Namun, Dirjen Perhubungan Darat Departemen Perhubungan, Iskandar Abu Bakar permasalahan kecelakaan lalu lintas jalan bukan semata-mata disebabkan kesalahan pengemudi, tetapi merupakan akibat dari kombinasi tiga faktor utama, yakni manusia, jalan dan kendaraan. Selain masalah kecepatan tinggi ketika mengemudi juga turut menyumbang pada tingginya mangka kecelakaan lalu lintas di jalan.
"Tapi faktor manusia merupakan penyebab utama kasus kecelakaan karena mencapai 80 hingga 90 persen," kata dia.Data yang diperoleh Metro, setidaknya di seluruh dunia setiap tahunnya korban yang meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas hampir mencapai angka 1 juta.
Di Indonesia sendiri, menurut data Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Departemen Perhubungan (Ditjen Hubdar Dephub) rata-rata korban meninggal dunia dalam 1 tahun sejumlah 10.696 jiwa atau setiap harinya lebih dari 20 keluarga yang harus kehilangan anggota keluarganya.
Berdasarkan data kepolisian pada 2006, setiap satu jam dua orang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas di seluruh penjuru Indonesia. Sepanjang 2006 ada 15.762 orang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas, tiap bulan sekitar 1.300-an atau setiap hari 45 orang. Menurut prediksi yang dikeluarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa kecelakaan lalu lintas akan menjadi penyebab kematian tertinggi pada tahun 2020 yang akan datang.
WHO juga melaporkan, kecelakaan lalu lintas merupakan pembunuh utama pada kaum muda berusia 10 hingga 24 tahun. Hampir 400 ribu pemuda berusia di bawah 25 tahun setiap tahun meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas dan jutaan lainnya luka atau cacat karenanya. Transportasi darat merupakan salah satu sektor teknologi yang terus mengalami perkembangan.
Hal ini dapat dilihat dari jumlah dan jenis kendaraan yang semakin banyak dan arus lalu lintas yang dari hari ke hari semakin padat.Khususnya kasus yang melibatkan sepeda motor, lihat saja berapa ratus sepeda motor dipasarkan. Dengan harga yang relatif terjangkau masyarakat beramai-ramai membeli sepeda motor. Ditambah lagi berbagai inovasi dalam bidang ini berjalan terus-menerus seiring dengan kebutuhan manusia akan daya jangkau dan jelajah yang semakin besar.
Padahal di sisi lain, apabila tidak ditangani dengan baik tekhnologi ini dapat berubah menjadi mesin pembunuh yang sangat berbahaya. Namun, masalah utamanya lebih dikarenakan lemahnya mekanisme control akibat rendahnya kesadaran dan kedisiplinan aparat dan pengguna jalan.
Untuk itu usaha untuk meningkatkan kesadaran aparat dan pengguna jalan perlu menjadi perhatian khusus apabila ingin menyelesaikan permasalahan keselamatan lalu lintas di negara kita tercinta ini.Salah satu metode penangan permasalahan lalu lintas adalah 3 E, yakni kombinasi dari engineering, education dan enforcement. Yakni, keterpaduan antara aspek tekhnologi yang terdiri dari inovasi kendaraan dan pengaturan prasarana jalan, pendidikan kesadaran berlalu lintas serta penegakan hukum yang tegas terhadap pelanggar peraturan lalu lintas.
Disamping itu usaha yang dapat ditempuh adalah dengan mengurangi jumlah dan intensitas kendaraan di jalan raya. Masyarakat perlu didorong untuk menggunakan model dan perjalanan yang lebih aman.
KASUS kecelakaan lalu lintas (lalin) yang mengakibatkan meninggal terjadi di wilayah Kabupaten Banjar semakin tidak terkendali. Tidak sampai tiga minggu bulan Juli 2007 ini, tercatat 12 orang tewas sia-sia.
Tercatat, tujuh nyawa melayang di Jalan A Yani, dua nyawa menghilang di Jalan Lingkar Gubernur Subarjo, dua orang tewas di jalan Desa Banua Anyar-Takuti Astambul dan satu nyawa melayang di Jalan Martapura Lama.
Dari data itu, dua kasus laka tunggal megakibatkan tiga orang meninggal dunia yakni Minggu (22/7) dan Senin (23/7), tabrak lari ada dua kasus dengan dua korban nyawa melayang di Jalan A Yani Sabtu (7/7) dan Sabtu (14/7). Tabrakan antara truk dan bus yang menyebabkan satu orang tewas terjadi Minggu (8/7). Sisanya adalah tabrakan antara sepeda motor dengan truk maupun mobil pribadi yang lainnya.
Kasat Lantas Polres Banjar, AKP I Kade Utama mengatakan, sebagian besar kecelakaan karena kecerobohan pengemudi maupun pengendara saat menjalankan kendaraannya. "Umumnya, para korban tidak konsentrasi saat mengendarai sepeda motor atau mobilnya di jalan, yang disebabkan karena kecapekan atau mengantuk datang," ujarnya.
Pernyataan ini tidaklah berlebihan. Kasus kecelakaan yang mengakibatkan Syarkawi meninggal dunia disebabkan ngantuknya korban. Pasalnya, korban sebelumnya telah menempuh perjalanan dari Tala menuju Banjarmasin dengan sebelumnya singgah di Cempaka.Juga kecelakaan lalu lintas yang menimpa pasangan suami istri, Muhammadiah (40) dan Rusmidah (35) meninggal dunia di tempat kejadian di Jl G Subardjo Km 19,9 Gambut, Senin (16/7) juga karena korban mengantuk setelah menempuh perjalanan dari HSS.
Juga kecelakaan maut antara bus Arfat DA 2779 AA jurusan Banjarmasin -Buntok dengan sebuah truk DA 9445 AJ, Minggu (8/7) sekitar pukul 15.00 Wita di Jl A Yani Km63, Desa Cabi, Mataraman, Banjar.Kelalaian pengemudi bus, Mahdiani (30) warga Jl A Yani Km3,5 RT4 RW6, Banjarmasin karena mengemudi dalam keadaan mengantuk karena setelah semalaman mengemudikan bus sebagai biangnya. Pengemudi truk, Sudarto (27) akhirnya meninggal dunia.
Namun, Dirjen Perhubungan Darat Departemen Perhubungan, Iskandar Abu Bakar permasalahan kecelakaan lalu lintas jalan bukan semata-mata disebabkan kesalahan pengemudi, tetapi merupakan akibat dari kombinasi tiga faktor utama, yakni manusia, jalan dan kendaraan. Selain masalah kecepatan tinggi ketika mengemudi juga turut menyumbang pada tingginya mangka kecelakaan lalu lintas di jalan.
"Tapi faktor manusia merupakan penyebab utama kasus kecelakaan karena mencapai 80 hingga 90 persen," kata dia.Data yang diperoleh Metro, setidaknya di seluruh dunia setiap tahunnya korban yang meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas hampir mencapai angka 1 juta.
Di Indonesia sendiri, menurut data Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Departemen Perhubungan (Ditjen Hubdar Dephub) rata-rata korban meninggal dunia dalam 1 tahun sejumlah 10.696 jiwa atau setiap harinya lebih dari 20 keluarga yang harus kehilangan anggota keluarganya.
Berdasarkan data kepolisian pada 2006, setiap satu jam dua orang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas di seluruh penjuru Indonesia. Sepanjang 2006 ada 15.762 orang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas, tiap bulan sekitar 1.300-an atau setiap hari 45 orang. Menurut prediksi yang dikeluarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa kecelakaan lalu lintas akan menjadi penyebab kematian tertinggi pada tahun 2020 yang akan datang.
WHO juga melaporkan, kecelakaan lalu lintas merupakan pembunuh utama pada kaum muda berusia 10 hingga 24 tahun. Hampir 400 ribu pemuda berusia di bawah 25 tahun setiap tahun meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas dan jutaan lainnya luka atau cacat karenanya. Transportasi darat merupakan salah satu sektor teknologi yang terus mengalami perkembangan.
Hal ini dapat dilihat dari jumlah dan jenis kendaraan yang semakin banyak dan arus lalu lintas yang dari hari ke hari semakin padat.Khususnya kasus yang melibatkan sepeda motor, lihat saja berapa ratus sepeda motor dipasarkan. Dengan harga yang relatif terjangkau masyarakat beramai-ramai membeli sepeda motor. Ditambah lagi berbagai inovasi dalam bidang ini berjalan terus-menerus seiring dengan kebutuhan manusia akan daya jangkau dan jelajah yang semakin besar.
Padahal di sisi lain, apabila tidak ditangani dengan baik tekhnologi ini dapat berubah menjadi mesin pembunuh yang sangat berbahaya. Namun, masalah utamanya lebih dikarenakan lemahnya mekanisme control akibat rendahnya kesadaran dan kedisiplinan aparat dan pengguna jalan.
Untuk itu usaha untuk meningkatkan kesadaran aparat dan pengguna jalan perlu menjadi perhatian khusus apabila ingin menyelesaikan permasalahan keselamatan lalu lintas di negara kita tercinta ini.Salah satu metode penangan permasalahan lalu lintas adalah 3 E, yakni kombinasi dari engineering, education dan enforcement. Yakni, keterpaduan antara aspek tekhnologi yang terdiri dari inovasi kendaraan dan pengaturan prasarana jalan, pendidikan kesadaran berlalu lintas serta penegakan hukum yang tegas terhadap pelanggar peraturan lalu lintas.
Disamping itu usaha yang dapat ditempuh adalah dengan mengurangi jumlah dan intensitas kendaraan di jalan raya. Masyarakat perlu didorong untuk menggunakan model dan perjalanan yang lebih aman.
Jangan Remehkan Penjahat
JAJARAN Polres Banjar sontak terhenyak. Salah seorang anggotanya, Briptu Suwarno (26), anggota Pospol Pasar Martapura ditusuk seorang anak baru gede (ABG), yang dicurigai menjadi tersangka kasus pembobolan kios.
Seolah rasa persaudaraan seprofesi, begitu mendengar salah seorang rekannya kena tusuk, seluruh anggota Polres Banjar langsung bergerak mencari tersangka Arif Rahman (18). Usaha tidak sia-sia.Arif bisa dibekuk dan dijebloskan ke rumah tahanan Mapolres Banjar.
Walaupun bukan kali pertama ini saja, anggota Polres Banjar kena tusuk, namun dibandingkan dengan kejadian yang menimpa rekannya, Bharatu Agus, anggota Polsek Sungai Tabuk bulan Desember 2003, kasus pencucukan yang menimpa Briptu Suwarno memang belum seberapa.
Setidaknya di lihat dari lukanya, Briptu Suwarno yang sempat menjadi anggota Polsek Beruntung Baru mengalami tiga mata luka sementara Bharatu Agus mengalami tujuh mata luka tusukan yakni di bagian dada kiri, punggung kiri, kedua belah tangan, dan kedua belah kaki. Bharatu Agus (27), ditusuk di sebuah lokasi permainan bilyar di kawasan Jl Pekapuran Raya, Banjarmasin Timur, Minggu (30/11) tahun 2003 sekitar pukul 18.00 wita. Pelakunya, Irwan alias Iwan Monyet (21), warga Jl Ratu Zaleha Gang Galuh Sari RT 13 nomor 37, Banjarmasin Timur berhasil diringkus.
Kedua kasus penusukan itu dan juga kasus penusukan lainnya yang terjadi di Jl A Yani Km 38, Batas Kota Martapura dan juga pencucukan penghuni LP Martapura terhadap seorang anggota polisi yang mengawal tahanan memunculkan hikmah yakni Jangan menganggap enteng penjahat.
Profesi anggota polisi memang cukup rentan terhadap berbagai tindak kekerasan saat menghadapi kelakuan penjahat. Tidak jarang pelaku tindak kejahatan berani melawan petugas bahkan tidak jarang terjadi perkelahian. Tindak pencucukan tidak akan terjadi jika polisi lebih cepat. Pistol keluar dari sarang dan dor. Sang penjahat pun lantas roboh setelah bagian tubuhnya terkena timah panas dari pistol yang menyalak.
Namun jika lagi apes, walaupun telah membawa senjata api namun pejahat telah tahu kelemahannya. Seperti yang dilakukan Arif Rahman memilih sembunyi. Saat korban datang ke kampungnya, ia keluar dengan pisau di tangan tubuh korban ditusuk dan kabur. Ia sangat yakin dengan kondisi luka tidak mungkin melakukan pengejaran walaupun korban saat itu juga membawa senjata api.
Prosedurnya, nyawa dulu yang diselamatkan barulah dilakukan pengejaran. Kepercayaan diri dan keberanian Briptu Suwarno memang cukup tinggi. Sang briptu memang dikenal mempunyai kemampuan bela diri sehingga tidaklah berlebihan jika berani menangkap tersangka sendiri setelah diketahui kabur dari Pospol Pasar Martapura. Berbagai pengalaman pahit yang anggota polisi ini setidaknya bisa menjadi sebuah pelajaran pentingnya pengamanan diri bagi anggota kepolisian. Diperlukan berbagai aturan yang melindungi anggota polisi dalam melaksanakan tugas.
Sejumlah rekan Suwarno yang ditemui Metro mengaku sempat kaget sekaligus heran mengetahui korban sempat ditusuk penjahat. Setahu mereka Suwarno mempunyai kemampuan beladiri dan tidak mungkin kalah menghadapi Arif yang mempunyai tubuh kurus dan tinggi itu. Bahkan mereka menduga Suwarno dikeroyok atau setidaknya sempat melakukan perlawanan. Celakanya, ia tidak sempat menyelesaikan dengan mencabut pistol yang dibawanya. Jika saja saat itu ia langsung mencabut pistol dan menembak, tamatlah tersangka saat itu juga, tanpa harus repot-repot mencari.
Menyusul terjadinya peristiwa yang menimpa Suwarno maupun kejadian lain yang menunjukkan pelaku tindak kejahatan semakin berani melawan petugas sangat menjadi kontra dengan kebijakan petinggi Polri. Seperti diketahui sejumlah senjata api (senpi) anggota polisi ditarik. Tidak urung hal itu menjadi khasak khusuk di kalangan anggota kepolisian bahwa hal itu dijadikan kesempatan penjahat makin berani melawan petugas.
"Memang susah kita. Bagaimana penjahat takut, sekarang sebagian senjata ditarik. Mereka justru semakin berani melawan petugas yang hendak menangkapnya. Kita juga khawatir keselamatan jiwa kita," ujar salah seorang anggota polisi.
Setidaknya berbagai solusi agar kasus ini tidak terjadi lagiadalah pentingnya prosedur keselamatan petugas. Setidaknya dalam menangani kasus melibatkan beberapa orang. Jangan sampai menghadapi penjahat sendiri. Hal itu dilakukan agar muncul rasa tidak percaya diri di kalangan penjahat jika dirinya harus berurusan dengan pihak kepolisian.
Jangan terjadi lagi kasus penganiayaan terhadap anggota polisi yang dilakukan penjahat. Dari pihak anggota sendiri, harus mempunyai perhitungan yang matang sebelum bertindak. Bagaimanapun juga keberanian seseorang melawan petugas bisa muncul setiap saat. Apalagi sebelumnya pelaku meminum-minuman keras terlebih dahulu.
Di sisi lain, aparat harus terus berusaha keras menekan banyaknya kepemilikan senjata tajam tanpa izin. Operasi pekat harsu dilaksanakan secara menyeluruh dan terus menerus serta pendekatan atau sosialisasi kepada masyarakat bawa sajam adalah bentuk pelanggaran hukum.
JAJARAN Polres Banjar sontak terhenyak. Salah seorang anggotanya, Briptu Suwarno (26), anggota Pospol Pasar Martapura ditusuk seorang anak baru gede (ABG), yang dicurigai menjadi tersangka kasus pembobolan kios.
Seolah rasa persaudaraan seprofesi, begitu mendengar salah seorang rekannya kena tusuk, seluruh anggota Polres Banjar langsung bergerak mencari tersangka Arif Rahman (18). Usaha tidak sia-sia.Arif bisa dibekuk dan dijebloskan ke rumah tahanan Mapolres Banjar.
Walaupun bukan kali pertama ini saja, anggota Polres Banjar kena tusuk, namun dibandingkan dengan kejadian yang menimpa rekannya, Bharatu Agus, anggota Polsek Sungai Tabuk bulan Desember 2003, kasus pencucukan yang menimpa Briptu Suwarno memang belum seberapa.
Setidaknya di lihat dari lukanya, Briptu Suwarno yang sempat menjadi anggota Polsek Beruntung Baru mengalami tiga mata luka sementara Bharatu Agus mengalami tujuh mata luka tusukan yakni di bagian dada kiri, punggung kiri, kedua belah tangan, dan kedua belah kaki. Bharatu Agus (27), ditusuk di sebuah lokasi permainan bilyar di kawasan Jl Pekapuran Raya, Banjarmasin Timur, Minggu (30/11) tahun 2003 sekitar pukul 18.00 wita. Pelakunya, Irwan alias Iwan Monyet (21), warga Jl Ratu Zaleha Gang Galuh Sari RT 13 nomor 37, Banjarmasin Timur berhasil diringkus.
Kedua kasus penusukan itu dan juga kasus penusukan lainnya yang terjadi di Jl A Yani Km 38, Batas Kota Martapura dan juga pencucukan penghuni LP Martapura terhadap seorang anggota polisi yang mengawal tahanan memunculkan hikmah yakni Jangan menganggap enteng penjahat.
Profesi anggota polisi memang cukup rentan terhadap berbagai tindak kekerasan saat menghadapi kelakuan penjahat. Tidak jarang pelaku tindak kejahatan berani melawan petugas bahkan tidak jarang terjadi perkelahian. Tindak pencucukan tidak akan terjadi jika polisi lebih cepat. Pistol keluar dari sarang dan dor. Sang penjahat pun lantas roboh setelah bagian tubuhnya terkena timah panas dari pistol yang menyalak.
Namun jika lagi apes, walaupun telah membawa senjata api namun pejahat telah tahu kelemahannya. Seperti yang dilakukan Arif Rahman memilih sembunyi. Saat korban datang ke kampungnya, ia keluar dengan pisau di tangan tubuh korban ditusuk dan kabur. Ia sangat yakin dengan kondisi luka tidak mungkin melakukan pengejaran walaupun korban saat itu juga membawa senjata api.
Prosedurnya, nyawa dulu yang diselamatkan barulah dilakukan pengejaran. Kepercayaan diri dan keberanian Briptu Suwarno memang cukup tinggi. Sang briptu memang dikenal mempunyai kemampuan bela diri sehingga tidaklah berlebihan jika berani menangkap tersangka sendiri setelah diketahui kabur dari Pospol Pasar Martapura. Berbagai pengalaman pahit yang anggota polisi ini setidaknya bisa menjadi sebuah pelajaran pentingnya pengamanan diri bagi anggota kepolisian. Diperlukan berbagai aturan yang melindungi anggota polisi dalam melaksanakan tugas.
Sejumlah rekan Suwarno yang ditemui Metro mengaku sempat kaget sekaligus heran mengetahui korban sempat ditusuk penjahat. Setahu mereka Suwarno mempunyai kemampuan beladiri dan tidak mungkin kalah menghadapi Arif yang mempunyai tubuh kurus dan tinggi itu. Bahkan mereka menduga Suwarno dikeroyok atau setidaknya sempat melakukan perlawanan. Celakanya, ia tidak sempat menyelesaikan dengan mencabut pistol yang dibawanya. Jika saja saat itu ia langsung mencabut pistol dan menembak, tamatlah tersangka saat itu juga, tanpa harus repot-repot mencari.
Menyusul terjadinya peristiwa yang menimpa Suwarno maupun kejadian lain yang menunjukkan pelaku tindak kejahatan semakin berani melawan petugas sangat menjadi kontra dengan kebijakan petinggi Polri. Seperti diketahui sejumlah senjata api (senpi) anggota polisi ditarik. Tidak urung hal itu menjadi khasak khusuk di kalangan anggota kepolisian bahwa hal itu dijadikan kesempatan penjahat makin berani melawan petugas.
"Memang susah kita. Bagaimana penjahat takut, sekarang sebagian senjata ditarik. Mereka justru semakin berani melawan petugas yang hendak menangkapnya. Kita juga khawatir keselamatan jiwa kita," ujar salah seorang anggota polisi.
Setidaknya berbagai solusi agar kasus ini tidak terjadi lagiadalah pentingnya prosedur keselamatan petugas. Setidaknya dalam menangani kasus melibatkan beberapa orang. Jangan sampai menghadapi penjahat sendiri. Hal itu dilakukan agar muncul rasa tidak percaya diri di kalangan penjahat jika dirinya harus berurusan dengan pihak kepolisian.
Jangan terjadi lagi kasus penganiayaan terhadap anggota polisi yang dilakukan penjahat. Dari pihak anggota sendiri, harus mempunyai perhitungan yang matang sebelum bertindak. Bagaimanapun juga keberanian seseorang melawan petugas bisa muncul setiap saat. Apalagi sebelumnya pelaku meminum-minuman keras terlebih dahulu.
Di sisi lain, aparat harus terus berusaha keras menekan banyaknya kepemilikan senjata tajam tanpa izin. Operasi pekat harsu dilaksanakan secara menyeluruh dan terus menerus serta pendekatan atau sosialisasi kepada masyarakat bawa sajam adalah bentuk pelanggaran hukum.
Label:
penjahat,
Polres Banjar,
senjata tajam
Rabu, 25 Juli 2007
Jurnalis Harus Tangguh
Beberapa waktu lalu saya pernah berkenalan dengan wartawati yang tiba-tiba muncul di Polres Banjar, tempat biasa saya nongkrong setiap pagi. Layaknya mendapatkan teman baru akupun memperkenalkan diri.
Belakangan saya tahu, ia ingin sekali ketemu denganku. Bukan kenapa-kenapa. Ia penasaran dengan tulisan-tulisan kriminalku yang dimuat di Harian Metro Banjar. "Saya senang berkenalan dengan kamu. Saya sering baca tulisanmu di Metro," ujar dia.
Untuk menjamu kedatangan teman baru, akupun mengajaknya ke kantin Mapolres yang berada persis di belakang gedung. Pesan dua soto dan es teh. Setelah selesai kita pun makan dan akupun memperkenalkannya pada pejabat Polres Banjar.
Sepekan setelah perkenalan itu ia sudah tidak pernah muncul lagi di Mapolres Banjar. Belakangan aku mendengar ia mengundurkan diri karena tidak betah dengan dinamika perkerjaan sebagai seorang jurnalis.Tidaklah gampang menjadi seorang jurnalis apalagi di bagian Kriminal.
Bisa dibayangkan setiap saat kita diminta harus bersiap-siap bekerja meliput. Bisa jadi saat seluruh masyarakat terlelap dalam tidur, kita justru harus keluar untuk meliput sebuah kejadian.
Seorang teman saya punya pengalaman cukup menarik.
Di tengah menunggu kelahiran anak sulungnya di rumah sakit, tiba-tiba terjadi kebakaran hebat di pasar Martapura. Karena merasa wilayah itu tanggungjawabnya ia meninggalkan sang istri demi mengejar sebuah berita kebakaran.
Menjadi seorang jurnalis, setiap detik adalah stanby untuk bekerja. Inilah yang kurang disadari banyak jurnalis baru yang akhirnya memilih mundur daripada disuruh kerja malam. Pekerjaan sebagai jurnalis memang membutuhkan tenaga dan pikiran yang sangat ekstra.
Di samping itu semua, siapapun yang ingin menjadi seorang jurnalis, haruslah mempunyai motivasi dan berkeinginan yang kuat untuk memang menjadi jurnalis. Sederhananya, jadi jurnalis bukanlah aji mumpung sebelum mendapatkan pekerjaan.
Sebenarnya yang lebih afdol dan kemudian awet menjadi jurnalis adalah aktivis di pers kampus. Catatan saya sejumlah rekan yang aku kenal, sebelum terjun ke dunia kerja sebagai jurnalis, mereka aktivis mahasiswa di kampusnya masing-masing.
Bagi yang bercita-sita menjadi jurnalis tidak ada salahnya mengikuti kegiatan kampus yang sekira dapat mendorong atau memotivasi terjun secara total menjadi seorang jurnalis setelah lulus dari kuliah kelak. (*)
Senin, 23 Juli 2007
BIOGRAFI
Biografi Jurnalistik Eko Sutriyanto
"Berkomukasi dengan banyak orang dan dikenal banyak orang".
Itulah yang melatarbelakangi saya menyukai jurnalistik sampai akhirnya terjun benar-benar bercimpung dalam jurnalistik. Untuk mencapai profesi ini tidaklah mudah. Perlu usaha dan mengambil kesempatan yang ada mumpung saat masih muda. Pengalaman jurnalistik yang tertuang dalam blog ini saya harapkan bisa menjadi pemicu bagi kalangan muda yang suka jurnalistik dan ingin terjun ke dunia jurnalistik yang penuh tantangan ini.
Masih ingat dalam memori otak saya, saat saya duduk di bangku Sekolah Menengah Umum (SMU) Marsudi Luhur Yogyakarta kelas I tahun 1991, untuk pertamakalinya tulisan saya termuat di Harian Bernas Yogyakarta di salah satu rubrik Surat Pembaca. Kolom nya saat itu Dari Anda. Bukan artikel, opini ataupun berita yang saya buat ketika itu, namun hanya sebuah permintaan alamat Himpunan Seni Fotografer Amatir (HISFA).
Memang saat itu lebih saya tertarik fotografi dibandingkan dengan menjadi wartawan. Namun dalam perkembangannya saya kembali menuliskan di rubrik yang sama tentang sebuah tulisan tentang kejengkelan atau lebih tepatnya keluhan saya terhadap ulah para awak bus kota (saat itu memang saya hanya mampu naik bus kota) yang mengenakan tarif Rp 150 gara-gara saya memakai jaket, padahal tarif siswa saat itu hanyalah Rp 100.
Dua kali dimuat di Harian Bernas itu akhirnya mendorong aku suka jurnalistik. Selepas SMU Marsudi Luhur, saya ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Saat orang tua menanyakan keinginan saya kuliah dengan mantap saya ingin ke jurusan Sastra Indonesia. Harapannya, bisa menjadi jurnalis tentunya. Namun niat mulai menjadi seorang jurnalis terganjal. Orang tua saya tidak menginginkan aku menjadi seorang jurnalis.
"Lah kalau kamu sakit tidak bisa bikin berita kamu mau makan apa. Sudah kamu ambil jurusan Akuntansi. Teman ayah mau bikin perusahaan di Bali. Kamu bisa bantu di sana," kata almarhum ayah.
Lantas saya mengikuti UMPTN UGM. Pilihan pertama Akuntansi sementara pilihan kedua Sastra Indonesia. Karena tidak begitu pintar saya gagal UMPTN. Akhirnya dengan urutan pilihan yang sama saya mendaftar di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan lolos Prodi Akuntansi.
Setelah setahun, tepatnya tahun 1995 majalah kampus USD, Natas membuka pendaftaran sebagai reporter kampus. Itung-itung sebagai pelampiasan gagal di Sastra Indonesia, saya masuk dan dinyatakan lolos setelah dipelonco untuk berjalan kaki dari Candi Prambanan sampai kampus USD di Mrican yang berjarak sekitar 30 km.
Bergabung menjadi tim redaksi Natas cukup menyenangkan. Bukan karena apa, selain bisa nulis berkat masuk Natas, saya mendapatkan kesempatan mendapatkan bantuan khusus Rp 25 ribu per bulan. Saat itu harga bensin masih Rp 700. Cukup buat isi tangki sepeda motorku Honda 70 yang pemakaian bensin 2 liter untuk 1 minggu. Yang lebih menyenangkan, dari keaktifan dalam majalah kampus ini saya beberapakali berkeliling untuk mengikuti pelatihan. Sertifikat dan Sertifikat yang aku peroleh. Semua aku kumpulkan sampai tahun 1997 saat bandai krisis datang yang mengganggu kelangsungan tabloit Natas hingga macet. Setahun tidak terbit karena badai ekonomi, rektor USD saat itu, Sastraprateja meminta Natas segera terbit.
"Kalau tidak bubarkan saja UKM Penerbitan (yang menerbitkan Natas)," kata dia. Tidak ingin mati begitu saja, saya dan Batoe salah seorang awak yang masih ada berusaha menerbitkan Natas.
Alhasil, Natas terbit kembali. UKM Penerbitan Kampus tidak jadi dibrendel rektorat. Segera kita melakukan rekrutmen hingga mendapatkan sekitar 10 orang awak yang kemudian meneruskan penerbitan. Selang setahun kemudian saya lulus dari USD. Keberuntungan berpihak padaku.
Usai pendadaran, Harian Bernas membuka lowongan wartawan. Dengan modal berbagai sertifikat yang aku miliki aku akhirnya dinyatakan lolos menjadi wartawan Bernas bersama empat orang temanku lainnya.
Mereka adalah Sigit Rahmawan Abadi (sekarang wartawan BPost Banjarmasin), I Nyoman Wiryadinata (sekarang reporter Trans TV di Bali), Aris (yang akhirnya mengundurkan diri dari Bernas) dan Clemon (sekarang reporter Trijaya FM di Yogyakarta). Begitu masuk Bernas aku ditempatkan di Cilacap Jawa Tengah.
Enam bulan aku di tempatkan di sana. Setelah itu saya dimutasi ke Gunung Kidul Yogyakarta. Di daerah yang dikenal dengan kekeringannya itu aku berkarya selama dua tahun. Setelah itu saya dimutasi di kota dipasrahi liputan LSM, kuliner dan sebagainya. Setelah 1 tahun enam bulan, saya dimutasi lagi ke Gunung Kidul sampai akhirnya bulan Agustus 2003 akhirnya saya mendapatkan kesempatan untuk berkarya di Banjarmasin.
Sesampainya di Banjarmasin saya di tempatnya di Harian Metro Banjar (grup Banjarmasin Post) sampai saat ini. Tepatnya 12 Agustus 2007 ini saya genap empat tahun merantau dan berkarya di harian Metro Banjar untuk wilayah liputan Hukum Kriminal di Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan. Salam...
"Berkomukasi dengan banyak orang dan dikenal banyak orang".
Itulah yang melatarbelakangi saya menyukai jurnalistik sampai akhirnya terjun benar-benar bercimpung dalam jurnalistik. Untuk mencapai profesi ini tidaklah mudah. Perlu usaha dan mengambil kesempatan yang ada mumpung saat masih muda. Pengalaman jurnalistik yang tertuang dalam blog ini saya harapkan bisa menjadi pemicu bagi kalangan muda yang suka jurnalistik dan ingin terjun ke dunia jurnalistik yang penuh tantangan ini.
Masih ingat dalam memori otak saya, saat saya duduk di bangku Sekolah Menengah Umum (SMU) Marsudi Luhur Yogyakarta kelas I tahun 1991, untuk pertamakalinya tulisan saya termuat di Harian Bernas Yogyakarta di salah satu rubrik Surat Pembaca. Kolom nya saat itu Dari Anda. Bukan artikel, opini ataupun berita yang saya buat ketika itu, namun hanya sebuah permintaan alamat Himpunan Seni Fotografer Amatir (HISFA).
Memang saat itu lebih saya tertarik fotografi dibandingkan dengan menjadi wartawan. Namun dalam perkembangannya saya kembali menuliskan di rubrik yang sama tentang sebuah tulisan tentang kejengkelan atau lebih tepatnya keluhan saya terhadap ulah para awak bus kota (saat itu memang saya hanya mampu naik bus kota) yang mengenakan tarif Rp 150 gara-gara saya memakai jaket, padahal tarif siswa saat itu hanyalah Rp 100.
Dua kali dimuat di Harian Bernas itu akhirnya mendorong aku suka jurnalistik. Selepas SMU Marsudi Luhur, saya ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Saat orang tua menanyakan keinginan saya kuliah dengan mantap saya ingin ke jurusan Sastra Indonesia. Harapannya, bisa menjadi jurnalis tentunya. Namun niat mulai menjadi seorang jurnalis terganjal. Orang tua saya tidak menginginkan aku menjadi seorang jurnalis.
"Lah kalau kamu sakit tidak bisa bikin berita kamu mau makan apa. Sudah kamu ambil jurusan Akuntansi. Teman ayah mau bikin perusahaan di Bali. Kamu bisa bantu di sana," kata almarhum ayah.
Lantas saya mengikuti UMPTN UGM. Pilihan pertama Akuntansi sementara pilihan kedua Sastra Indonesia. Karena tidak begitu pintar saya gagal UMPTN. Akhirnya dengan urutan pilihan yang sama saya mendaftar di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan lolos Prodi Akuntansi.
Setelah setahun, tepatnya tahun 1995 majalah kampus USD, Natas membuka pendaftaran sebagai reporter kampus. Itung-itung sebagai pelampiasan gagal di Sastra Indonesia, saya masuk dan dinyatakan lolos setelah dipelonco untuk berjalan kaki dari Candi Prambanan sampai kampus USD di Mrican yang berjarak sekitar 30 km.
Bergabung menjadi tim redaksi Natas cukup menyenangkan. Bukan karena apa, selain bisa nulis berkat masuk Natas, saya mendapatkan kesempatan mendapatkan bantuan khusus Rp 25 ribu per bulan. Saat itu harga bensin masih Rp 700. Cukup buat isi tangki sepeda motorku Honda 70 yang pemakaian bensin 2 liter untuk 1 minggu. Yang lebih menyenangkan, dari keaktifan dalam majalah kampus ini saya beberapakali berkeliling untuk mengikuti pelatihan. Sertifikat dan Sertifikat yang aku peroleh. Semua aku kumpulkan sampai tahun 1997 saat bandai krisis datang yang mengganggu kelangsungan tabloit Natas hingga macet. Setahun tidak terbit karena badai ekonomi, rektor USD saat itu, Sastraprateja meminta Natas segera terbit.
"Kalau tidak bubarkan saja UKM Penerbitan (yang menerbitkan Natas)," kata dia. Tidak ingin mati begitu saja, saya dan Batoe salah seorang awak yang masih ada berusaha menerbitkan Natas.
Alhasil, Natas terbit kembali. UKM Penerbitan Kampus tidak jadi dibrendel rektorat. Segera kita melakukan rekrutmen hingga mendapatkan sekitar 10 orang awak yang kemudian meneruskan penerbitan. Selang setahun kemudian saya lulus dari USD. Keberuntungan berpihak padaku.
Usai pendadaran, Harian Bernas membuka lowongan wartawan. Dengan modal berbagai sertifikat yang aku miliki aku akhirnya dinyatakan lolos menjadi wartawan Bernas bersama empat orang temanku lainnya.
Mereka adalah Sigit Rahmawan Abadi (sekarang wartawan BPost Banjarmasin), I Nyoman Wiryadinata (sekarang reporter Trans TV di Bali), Aris (yang akhirnya mengundurkan diri dari Bernas) dan Clemon (sekarang reporter Trijaya FM di Yogyakarta). Begitu masuk Bernas aku ditempatkan di Cilacap Jawa Tengah.
Enam bulan aku di tempatkan di sana. Setelah itu saya dimutasi ke Gunung Kidul Yogyakarta. Di daerah yang dikenal dengan kekeringannya itu aku berkarya selama dua tahun. Setelah itu saya dimutasi di kota dipasrahi liputan LSM, kuliner dan sebagainya. Setelah 1 tahun enam bulan, saya dimutasi lagi ke Gunung Kidul sampai akhirnya bulan Agustus 2003 akhirnya saya mendapatkan kesempatan untuk berkarya di Banjarmasin.
Sesampainya di Banjarmasin saya di tempatnya di Harian Metro Banjar (grup Banjarmasin Post) sampai saat ini. Tepatnya 12 Agustus 2007 ini saya genap empat tahun merantau dan berkarya di harian Metro Banjar untuk wilayah liputan Hukum Kriminal di Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan. Salam...
Langganan:
Postingan (Atom)